Minggu, 20 September 2015

Subagio Sastrowardoyo
Pekerjaan : penyair, penulis cerita pendek, eseis, kritikus sastra
Kewarganegaraan : Bendera Indonesia Indonesia
Periode menulis :abad ke-20
Aliran sastra puisi :liris

Subagio Sastrowardoyo (lahir di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924 – meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995 pada umur 71 tahun)[1] adalah seorang dosen, penyair, penulis cerita pendek dan esei, serta kritikus sastra asal Indonesia. Selama bertahun-tahun, ia adalah direktur perusahaan penerbitan Balai Pustaka.


Pendidikan dan karier

Subagio berpendidikan HIS di Bandung dan Jakarta, HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM selesai tahun 1958, Universitas Yale tahun 1961-1966. Pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia Kursus B-I di Yogyakarta (1954-1958), dosen Kesustraan Indonesia di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1658-1961), dosen UNPAD, dosen SESKOAD keduanya di Bandung, dosen bahasa dan Kesusastraan Indonesia di Universitas Flinders, Adelaide, dan terakhir bekerja di Penerbit Balai Pustaka. Pada musim panas 1984, ia juga pernah menjadi seorang instruktur tamu di Universitas Ohio, dan mengajarkan bahasa Indonesia.

Karya

Sekitar tahun 1950-an, Subagio lebih menonjol sebagai pengarang cerpen daripada seorang penyair. Cerpennya yang berjudul Kejantanan di Sumbing pernah mendapatkan hadiah sebagai cerpen terbaik. Dalam cerpen dan sajak-sajaknya, banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang oleh nafsunya. Manusia-manusia Subagio adalah manusia-manusia yang dalam mencoba mempertahankan kewajiban tergoda oleh sifat-sifat kedagingannya.

Puisi-puisi Subagio umumnya dipandang mempunyai bobot filosofis yang tinggi dan mendalam, dan tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Perumpamaan dan lambang digunakannya secara dewasa dan matang. Sajaknya yang berjudul Dan Kematian Makin Akrab memenangkan Hadiah Horison untuk sajak-sajak yang dimuat tahun 1966-1967, dan tahun 1970 mendapatkan Anugerah Seni dari Pemerintah RI untuk kumpulan sajaknya Daerah Perbatasan (1970).

Subagio juga terjun dalam dunia kritik dan telaah sastra. Esei-eseinya banyak yang mencoba menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam

ibliografi

Puisi
Simphoni (1957)
Daerah Perbatasan (1970)
Keroncong Motinggo (1975)
Buku Harian (1979)
Hari dan Hara (1982)
Kematian Makin Akrab (1995).

Proses kreatif
Ada dua frase kunci dalam pernyataan Subagio itu; yang pertama nilai seni, dan yang kedua adalah pertimbangan-pertimbangan estetik. Apakah yang dimaksud nilai seni dan apakah yang dimaksud pertimbangan estetik itu? Membaca sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo, tampaknya, memahami dua frase kunci dari pernyataannya itu menjadi sangat penting untuk mengungkap, membongkar, dan melibatkan diri kita dengan sajak-sajaknya.

Subagio lebih sabar dan lebih suka menantikan saat saat puitis itu tiba sendiri. Saya latih jiwa saya untuk mencapai keheningan serta kecerahan, yaitu saat saat keadaan batin yang paling baik buat ilham timbul.
Kalau saya menulis sajak sajak, saya merasa sepeeti telah mendengar batas batas kepatutan yang boleh diucapkan tentang alam kerohanian.