The last wich hunter
menceritakan tentang rahasiasebuah kehidupan modern. Dimana dalam kehidupan modern muncullah seorang ratu penyihit yang akan mengancam para manusia di bumi.
Kaulder (Vin Diesel) adalah seorang pemburu penyihir yang hebat. Dalam aksi perburuhannya, Kaulder dan kelompoknya berhasil membunuh Ratu Penyihir Jahat (Jullie Engelbrecht). Kematian sang Ratu Sihir menyisakan sebuah kutukan untuk Kaulder.
Sebelum mengakhiri hidupnya, Ratu penyihir tersebut mengutuk Kaulder, bahwa nantinya Kaulder akan hidup abadi.
Kutukan tersebut akhirnya menjadi kenayataan, memiliki kehidupan abadi membuat Kaulder menyaksikan istri dan anaknya meninggal dihadapannya. Hingga setelah itu, Kaulder merupakan satu-satunya orang yang tersisa dalam kelompoknya.
Di sisi lain ada seseorang yang sedang berusaha untuk membangkitkan Ratu sihir. Ratu Sihir pun bangkit dan melakukan balas dendam kepada Kaulder dan jajaran manusia di seluruh bumi. Untuk yang kedua kalinya, Kaulder harus mengalahkan Ratu Sihir tersebut.
Ide creative :
Ratu sihir akan membangkitkan kembali istri kaulder, lalu kaulder mengajarkan beladiri kepada istri dan anaknya. Dan mereka bersatu untuk benar benar mentiadakan sihir didunia.
Minggu, 29 November 2015
Minggu, 15 November 2015
Mind Map Objek
Pulau Tidung adalah salah satu pulau dikepulauan seribu. Pulau tidung ini terbagi dua yaitu, Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Penggunaan wilayah di pulau ini berkembang ke arah wisata laut seperti diving, snorkling, flying boat, banana boat, flying donat, jetski. Dan wisata daratnya seperti keliling pulau, kemakan raja tidung, dan icon pulau tidung yaitu jembatan cinta.
Pulau Tidung yang terdiri dari Tidung Besar dan Tidung Kecil yang dihubungkan oleh jembatan panjang yang dinamakan jembatan cinta oleh penduduk setempat ini terletak di Kepulauan Seribu Selatan bagian barat, dengan jarak tempuh kurang lebih 3 jam perjalanan dari Muara Angke dengan kapal penumpang.
Sebagai salah satu tujuan favorit paket wisata, pulau tidung ini dapat ditemui perkampungan penduduk dan beberapa warung yang menyediakan makanan dan minuman ringan, selanjutnya jalan setapak yang panjang ini ini akan melewati fasilitas umum, seperti kantor polisi, sekolah setingkat SMU untuk para pelajar dari pulau sekeliling, kumpulan warung dan menuju ke jembatan cinta yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil tanpa penduduk.
Di awal jembatan penghubung ini, akan ditemui jembatan yang cukup tinggi untuk melalui suatu cekungan laut yang agak dalam, dimana banyak anak kecil penduduk setempat memperagakan loncat indah dari jembatan sebagai sarana bermain mereka, cukup menghibur para wisatawan dan amat mengundang keinginan untuk bisa bergabung dengan mereka melakukan loncat indah di pantai biru tanpa ombak.
Di penghujung jembatan penghubung, menapaki pantai Pulau Tidung Kecil yang merupakan kawasan pengembangbiakan mangrove, masih tampil indah ditelusuri dengan bersepeda, melalui jalan setapak yang dipenuhi dengan ilalang dan pantai sepi yang pasirnya putih lembut, sangat indah pemandangannya.
Mungkin pulau tidung bisa menjadi lokasi ajang lomba balap jetski internasi
Minggu, 04 Oktober 2015
Bismillah.
Nama lengkap saya Rivany Pratama kelahiran Jakarta. Tepatnya dirumah sakit tanah abang "katanya" -.- .
Saya memulai jenjang pendidikan T.K pada umur 4tahun, dilanjutkan kependidikan sekolah dasar umur 5 tahun, dan diwaktu itu standar sekolah dasar minimal 6tahun. Menurut orangtua ceritakan kepada saya, sangat sulit mencari yg mau menerima saya . Sedih ya haha (dikarenakan umur belum cukup) tapi orangtua memastikan saya pantas masuk sekolah dasar, dan akhirnya dites membaca waktu itu. Dan akhirnya pun saya diterima. Senangnya haha.
Selama 6tahun saya menempuh ilmu di sekolah dasar tepatnya SD Mekarsari 08 Tambun - Bekasi. Hmmm di SD tsb, prestasi saya cukup dibilang bagus :D, prestasi juara kelas, sampai juara seni musik se Kabupaten. Akhirnya lulus jg, dan akhirnya saya memasuki jenjang SMP, selama SMP prestasi mulai menurun huft, tapi yaa masih lumayan lah. Di SMP saya menjuarai Musikalisasi Puisi se JawaBarat dan harapan 1 pencak silat POPDA Dan akhirnya lulus standar 3tahun. Nah ini dia pengalaman yg paling paling apa yah bingung juga haha, yaitu pengalaman SMA. Tapi saya bukan SMA, melainkan SMK ditelekomunikasi Telesandi Bekasi. Saya mengambil jurusan multimedia. 2tahun terlewati dan naik kekelas 12, nah ini dia kebandelan kebandelan saya mulai keluar haha. Dari sering nongkong sebelum masuk aampai telat dan disurug pulang, dan sewakty menjelang UN, saya genap 32 hari tidak masuk selama 1aemester. Huft. Tapi ya alhamdulillah lulus dengan hasil yg memuaskan. Sewaktu SMK prestasi saya ada diluar sekolah. Yaitu menang festival band yg waktu itu diadakan diGor Bekasi.
Nah ini dia melanjutkan kuliah,
Cari mencari yg dicari akhirnya ketemu juga yg cocok yaitu Universitas MercuBuana. Dan sampai sekarang sudah masuk di smt 7. Dengan mengambil jurusan Broadcasting. Tekad setelah lulus dr kampus, mau jadi orang sukses, membahagiakan orangtua kalo bisa Negara biar sekalian hahaha
Perbeadaan proses kreatif diri saya berbeda dengan Subagyo. Saya kurang suka mengheningkan diri sendiri sampai ide ide muncul. Saya lebih senang mencari ide tersebut dengan cara apapun kecuali menyendiri. Keluar pergi kemana pun yg bisa membuat saya senanh dan akhirnya ide ide muncul. Ide yg saya maksud bagi saya itu tentang musik.
Nama lengkap saya Rivany Pratama kelahiran Jakarta. Tepatnya dirumah sakit tanah abang "katanya" -.- .
Saya memulai jenjang pendidikan T.K pada umur 4tahun, dilanjutkan kependidikan sekolah dasar umur 5 tahun, dan diwaktu itu standar sekolah dasar minimal 6tahun. Menurut orangtua ceritakan kepada saya, sangat sulit mencari yg mau menerima saya . Sedih ya haha (dikarenakan umur belum cukup) tapi orangtua memastikan saya pantas masuk sekolah dasar, dan akhirnya dites membaca waktu itu. Dan akhirnya pun saya diterima. Senangnya haha.
Selama 6tahun saya menempuh ilmu di sekolah dasar tepatnya SD Mekarsari 08 Tambun - Bekasi. Hmmm di SD tsb, prestasi saya cukup dibilang bagus :D, prestasi juara kelas, sampai juara seni musik se Kabupaten. Akhirnya lulus jg, dan akhirnya saya memasuki jenjang SMP, selama SMP prestasi mulai menurun huft, tapi yaa masih lumayan lah. Di SMP saya menjuarai Musikalisasi Puisi se JawaBarat dan harapan 1 pencak silat POPDA Dan akhirnya lulus standar 3tahun. Nah ini dia pengalaman yg paling paling apa yah bingung juga haha, yaitu pengalaman SMA. Tapi saya bukan SMA, melainkan SMK ditelekomunikasi Telesandi Bekasi. Saya mengambil jurusan multimedia. 2tahun terlewati dan naik kekelas 12, nah ini dia kebandelan kebandelan saya mulai keluar haha. Dari sering nongkong sebelum masuk aampai telat dan disurug pulang, dan sewakty menjelang UN, saya genap 32 hari tidak masuk selama 1aemester. Huft. Tapi ya alhamdulillah lulus dengan hasil yg memuaskan. Sewaktu SMK prestasi saya ada diluar sekolah. Yaitu menang festival band yg waktu itu diadakan diGor Bekasi.
Nah ini dia melanjutkan kuliah,
Cari mencari yg dicari akhirnya ketemu juga yg cocok yaitu Universitas MercuBuana. Dan sampai sekarang sudah masuk di smt 7. Dengan mengambil jurusan Broadcasting. Tekad setelah lulus dr kampus, mau jadi orang sukses, membahagiakan orangtua kalo bisa Negara biar sekalian hahaha
Perbeadaan proses kreatif diri saya berbeda dengan Subagyo. Saya kurang suka mengheningkan diri sendiri sampai ide ide muncul. Saya lebih senang mencari ide tersebut dengan cara apapun kecuali menyendiri. Keluar pergi kemana pun yg bisa membuat saya senanh dan akhirnya ide ide muncul. Ide yg saya maksud bagi saya itu tentang musik.
Minggu, 20 September 2015
Subagio Sastrowardoyo
Pekerjaan : penyair, penulis cerita pendek, eseis, kritikus sastra
Kewarganegaraan : Bendera Indonesia Indonesia
Periode menulis :abad ke-20
Aliran sastra puisi :liris
Subagio Sastrowardoyo (lahir di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924 – meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995 pada umur 71 tahun)[1] adalah seorang dosen, penyair, penulis cerita pendek dan esei, serta kritikus sastra asal Indonesia. Selama bertahun-tahun, ia adalah direktur perusahaan penerbitan Balai Pustaka.
Pendidikan dan karier
Subagio berpendidikan HIS di Bandung dan Jakarta, HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM selesai tahun 1958, Universitas Yale tahun 1961-1966. Pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia Kursus B-I di Yogyakarta (1954-1958), dosen Kesustraan Indonesia di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1658-1961), dosen UNPAD, dosen SESKOAD keduanya di Bandung, dosen bahasa dan Kesusastraan Indonesia di Universitas Flinders, Adelaide, dan terakhir bekerja di Penerbit Balai Pustaka. Pada musim panas 1984, ia juga pernah menjadi seorang instruktur tamu di Universitas Ohio, dan mengajarkan bahasa Indonesia.
Karya
Sekitar tahun 1950-an, Subagio lebih menonjol sebagai pengarang cerpen daripada seorang penyair. Cerpennya yang berjudul Kejantanan di Sumbing pernah mendapatkan hadiah sebagai cerpen terbaik. Dalam cerpen dan sajak-sajaknya, banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang oleh nafsunya. Manusia-manusia Subagio adalah manusia-manusia yang dalam mencoba mempertahankan kewajiban tergoda oleh sifat-sifat kedagingannya.
Puisi-puisi Subagio umumnya dipandang mempunyai bobot filosofis yang tinggi dan mendalam, dan tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Perumpamaan dan lambang digunakannya secara dewasa dan matang. Sajaknya yang berjudul Dan Kematian Makin Akrab memenangkan Hadiah Horison untuk sajak-sajak yang dimuat tahun 1966-1967, dan tahun 1970 mendapatkan Anugerah Seni dari Pemerintah RI untuk kumpulan sajaknya Daerah Perbatasan (1970).
Subagio juga terjun dalam dunia kritik dan telaah sastra. Esei-eseinya banyak yang mencoba menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam
ibliografi
Puisi
Simphoni (1957)
Daerah Perbatasan (1970)
Keroncong Motinggo (1975)
Buku Harian (1979)
Hari dan Hara (1982)
Kematian Makin Akrab (1995).
Proses kreatif
Ada dua frase kunci dalam pernyataan Subagio itu; yang pertama nilai seni, dan yang kedua adalah pertimbangan-pertimbangan estetik. Apakah yang dimaksud nilai seni dan apakah yang dimaksud pertimbangan estetik itu? Membaca sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo, tampaknya, memahami dua frase kunci dari pernyataannya itu menjadi sangat penting untuk mengungkap, membongkar, dan melibatkan diri kita dengan sajak-sajaknya.
Subagio lebih sabar dan lebih suka menantikan saat saat puitis itu tiba sendiri. Saya latih jiwa saya untuk mencapai keheningan serta kecerahan, yaitu saat saat keadaan batin yang paling baik buat ilham timbul.
Kalau saya menulis sajak sajak, saya merasa sepeeti telah mendengar batas batas kepatutan yang boleh diucapkan tentang alam kerohanian.
Pekerjaan : penyair, penulis cerita pendek, eseis, kritikus sastra
Kewarganegaraan : Bendera Indonesia Indonesia
Periode menulis :abad ke-20
Aliran sastra puisi :liris
Subagio Sastrowardoyo (lahir di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924 – meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995 pada umur 71 tahun)[1] adalah seorang dosen, penyair, penulis cerita pendek dan esei, serta kritikus sastra asal Indonesia. Selama bertahun-tahun, ia adalah direktur perusahaan penerbitan Balai Pustaka.
Pendidikan dan karier
Subagio berpendidikan HIS di Bandung dan Jakarta, HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM selesai tahun 1958, Universitas Yale tahun 1961-1966. Pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia Kursus B-I di Yogyakarta (1954-1958), dosen Kesustraan Indonesia di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1658-1961), dosen UNPAD, dosen SESKOAD keduanya di Bandung, dosen bahasa dan Kesusastraan Indonesia di Universitas Flinders, Adelaide, dan terakhir bekerja di Penerbit Balai Pustaka. Pada musim panas 1984, ia juga pernah menjadi seorang instruktur tamu di Universitas Ohio, dan mengajarkan bahasa Indonesia.
Karya
Sekitar tahun 1950-an, Subagio lebih menonjol sebagai pengarang cerpen daripada seorang penyair. Cerpennya yang berjudul Kejantanan di Sumbing pernah mendapatkan hadiah sebagai cerpen terbaik. Dalam cerpen dan sajak-sajaknya, banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang oleh nafsunya. Manusia-manusia Subagio adalah manusia-manusia yang dalam mencoba mempertahankan kewajiban tergoda oleh sifat-sifat kedagingannya.
Puisi-puisi Subagio umumnya dipandang mempunyai bobot filosofis yang tinggi dan mendalam, dan tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Perumpamaan dan lambang digunakannya secara dewasa dan matang. Sajaknya yang berjudul Dan Kematian Makin Akrab memenangkan Hadiah Horison untuk sajak-sajak yang dimuat tahun 1966-1967, dan tahun 1970 mendapatkan Anugerah Seni dari Pemerintah RI untuk kumpulan sajaknya Daerah Perbatasan (1970).
Subagio juga terjun dalam dunia kritik dan telaah sastra. Esei-eseinya banyak yang mencoba menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam
ibliografi
Puisi
Simphoni (1957)
Daerah Perbatasan (1970)
Keroncong Motinggo (1975)
Buku Harian (1979)
Hari dan Hara (1982)
Kematian Makin Akrab (1995).
Proses kreatif
Ada dua frase kunci dalam pernyataan Subagio itu; yang pertama nilai seni, dan yang kedua adalah pertimbangan-pertimbangan estetik. Apakah yang dimaksud nilai seni dan apakah yang dimaksud pertimbangan estetik itu? Membaca sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo, tampaknya, memahami dua frase kunci dari pernyataannya itu menjadi sangat penting untuk mengungkap, membongkar, dan melibatkan diri kita dengan sajak-sajaknya.
Subagio lebih sabar dan lebih suka menantikan saat saat puitis itu tiba sendiri. Saya latih jiwa saya untuk mencapai keheningan serta kecerahan, yaitu saat saat keadaan batin yang paling baik buat ilham timbul.
Kalau saya menulis sajak sajak, saya merasa sepeeti telah mendengar batas batas kepatutan yang boleh diucapkan tentang alam kerohanian.
Minggu, 13 September 2015
Langganan:
Postingan (Atom)

